Salah satu kualitas emosional yang diajarkan dalam konsep Emotional Intelligence yang lebih dkenal dengan istilah " kecerdasan emosional " adalah optimisme. optimisme adalah kebiasaan berfikir positif dan kecenderungan untuk memandan segala sesuatu dari sisi dan kodisi yang baiknya dan mengharapkan hasil yang paling memuaskan dari apa yang telah dilakukannya.
anak-anak optimis akan tumbuh menjadi anak- anak yang menyenangkan, semangat dan keceriaan mereka akan menular. perlu dipahami optimisme lebih dari sekedar bakat kepribadian yang menarik. Namun lebih dari itu, orang yang optimis jarang menderita depresi, lebih sukses disekolah dan pekerjaannya. dan yang mengejutkan mereka yang memiliki karakter optimis memiliki tubuh lebih sehat dari pada orang pesimis. satu lagi, optimisme dapat diajarkan.
Bagaimana menjadi anak anda optimis????
Pertama : Berhati- hatilah dalam mengkritik anak.
Perhatikan cara anda (orang tua ) mengkritik anak." menyalahkan secara berlebihan akan menimbulkan rasa bersalah dan malu lebih dari pada yang diperlukan untuk membuat anakberubah." Dalam mengkritik perlu juga dikembangkan gaya memberikan penjelasan yang optimis, uraikan masalah secara realistis apabila penyebabnya spesifik dan dapat diubah. bila anda mengkritik atau menegur anak anda, anda sedang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap kehidupan, secara optimis atau pesimis.
Kedua : Menggunakan anda sendiri (orang tua ) sebagai model.
Anak cenderung meniru perilaku dan perkataan orang tua, mereka akan menyerap aspek- aspek yang baik sekaligus yang buruk. jika anda ingin mereka menikmati manfaat pola pikir yang optimis berarti sebagai orang tua, anda pun harus mengubah pola pikir anda menjadi orangtua yang optimis. Seringkali sebagai orangtua, kita melontarkan kalimat-kalimat negative sebagai contoh : Nilai matematika anak selalu jelek, komentar negative yang sering kita lontarkan : "masa soal mudah begini kamu tidak bisa? Mau jadi apa kamu?"
Ubahlah menjadi komentar positive : "Kalau kamu belajar lebih rajin dan meminta PR tambahan sebelum ulangan, ibu/ bapak yakin nilaimu dapat maju lebih baik.
Ketiga : Mengubah pola pikir anak
Dengan membuat anak-anak membayangkan suatu masalah intern sebagai sesuatu yang berada diluar, ini memungkinkan memandangnya dengan cara baru. Menyebut sebuah masalah sebagai "musuh", dapat memotivasi anak untuk melakukan sesuatu yang baru. Ia sadar, kadang-kadang untuk pertama kalinya, bahwa ia tidak buruk, yang buruk adalah sesuatu atau masalah yang telah mengendalikan pikirannya.
Perlu diingat, bahwa anak-anak dapat diajari bersikap lebih optimis sehingga anak-anak memiliki cara pikir realistis serta mampu mengambil kesempatan-kesempatan untuk menghadapi tantangan yang sesuai dengan usianya, kemudian menguasai cara-cara menghadapi tantangan tersebut.




0 komentar:
Posting Komentar